Autis merupakan
gangguan perkembangan neurobiologis yang berat, yang timbul dalam tiga tahun pertama kehidupan anak.
gangguan perkembangan neurobiologis yang berat, yang timbul dalam tiga tahun pertama kehidupan anak.
Mengenali gejala
Gejala-gejala bisa terlihat sejak beberapa hari/minggu setelah bayi lahir, atau beberapa bulan kemudian setelah tahap-tahap perkembangan yang seharusnya ada tetapi tidak dicapai oleh balita yang bersangkutan.
ADA juga anak-anak yang mula-mula perkembangannya tampak normal, tetapi kemudian terjadi kemunduran pada umur 18 bulan, yaitu berbagai kemampuan yang tadinya sudah ada, misalnya sebelumnya anak sudah berbicara sepatah-dua-patah kata, tetapi kemudian menghilang.
‘’Mereka yang sudah biasa melihat/berhubungan dengan penyandang Autis, dapat mendeteksi/mencurigai seorang anak merupakan penyandang Autis paling tidak pada usia anak sekitar dua tahun sampai tiga tahun.
Para profesional yang sudah biasa menangani Autis, bahkan bisa mendiagnosis jauh lebih muda dari itu,’’ ujar dr Hj Diana Tabrani saat memberikan materi
presentasi kesehatan yang dilaksanakan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIB) Zainab bekerja sama dengan BKMT Riau, Selasa (26/1) di Gedung Balai Pelangi.
Pada presentasi kesehatan ini menghadirkan dua nara sumber yakni
- dr Hj Diana Tabrani yang berbicara mengenai penyakit Autis dan
- dr Farid Alwi yang berbicara mengenai At-Thibbun Nabawi (berobat secara Rasulullah).
Sementara yang hadir terlihat Ketua BKMT Riau,
- Hj Roslaini Ismail Suko,
- Ketua KPAID Riau,
- Dra Hj Rosnaniar MSi,
- Ketua BKOW Riau Hj Novilia Sarif SE,
- utusan organisasi wanita dan
- majelis taklim.
Dikatakan Diana, dulu Autis dikatakan sebagai suatu kelainan yang tanpa harapan untuk sembuh.
Namun saat ini (yang dimulai sejak paling tidak 1-2 dekade terakhir ini), dengan terapi dan penanganan yang optimal, semakin banyak penyandang Autis yang “sembuh” atau menuju kesembuhan.
‘’Memiliki anak yang menderita autis memang berat.
- Anak penderita autis seperti seorang yg kerasukan setan.
- Selain tidak mampu bersosialisasi,
- penderita tidak dapat mengendalikan emosinya. Kadang tertawa terbahak, kadang marah tak terkendali.
- Dia sendiri tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri dan
- memiliki gerakan-gerakan aneh yang selalu diulang-ulang.
- Selain itu dia punya ritual sendiri yg harus dilakukannya pada saat-saat atau kondisi tertentu,’’ sebut Diana.
Autis bukan karena keluarga (terutama ibu yang paling sering dituduh) yang tidak dapat mendidik penderita. Anak autis
- tidak memiliki minat bersosialisasi,
- dia seolah hidup di dunianya sendiri.
- Dia tidak peduli dengan orang lain.
- Orang lain (biasanya ibunya) yang dekat dengannya hanya dianggap sebagai penyedia kebutuhan hidupnya.
Autis memiliki spektrum yang lebar. Dari autis ringan sampai terberat. Termasuk di dalamnya adalah
- hyper-active,
- attention disorder, dan lain-lain.
Kebanyakan anak autis adalah laki-laki karena tidak adanya hormon estrogen yang dapat menetralisir autismenya. Sedang hormon testoteronnya justru memperparah keadaannya. Sedikit sekali penderitanya perempuan karena memiliki hormon estrogen yg dapat memperbaikinya.
Perlu beberapa hal yang perlu diketahui, dipahami dan dilakukan, yaitu;
- anak autis tidak gila dan
- tidak kerasukan setan.
Penanganan harus dilakukan secara medis dan teratur, penderita autis sebagian dapat sembuh dengan beberapa kondisi yakni ditangani dan terapi sejak dini, dan lain-lain.
Sementara dr Farid Alwi menjelaskan pengobatan At-Thibbun Nabawi dilakukan dengan cara
- dihijamah (dibekam),
- suntikan dengan serum lebah madu,
- terapi bahan herbal,
- rugyah, membaca Alquran dan salat Tahajud.
Presentasi Kesehatan RSIA Zainab dan BKMT. 28 Januari 2010, Laporan HENNY ELYATI, Kota henny-elyati@riaupos.com (www.riaupos.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar