dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke-13 M untuk
Thibbun nabawi (pengobatan para nabi} merupakan suatu tindakkan dan perbuatan Rasul dalam
- menanggulangi (preventif),
- penyembuhan (healing), dan
- perawatan (care) pasien. Rasul memberitahukan mengenai masalah-masalah kesehatan, tindakkan medis bagi orang lain (pasien) dan tindakkan medis untuk diri sendiri (Dr Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) 2009).
meyakini bahwa Thibbun Nabawi atau pengobatan ala Nabi mampu mengatasi penyakit-penyakit yang di kalangan medis modern diyakini sebagai penyakit-penyakit yang tak bisa disembuhkan.
Mereka tidak bisa menalar, bagaimana seseorang yang mengalami
stroke,
tekanan darah tinggi,
diabetes, dan
jantung koroner dibekam,
dikeluarkan darah dari permukaan kulitnya, lantas ia bisa memperoleh kesembuhan?
Bagaimana pula
ruqyah,
madu,
habbatus sauda’,
minyak zaitun, dan
berbagai resep-resep pengobatan dalam Al-Quran dan As-Sunnah
secara mencengangkan, cepat, mudah, dan murah, dengan izin Allah, menjadi sebab sembuhnya berbagai penyakit yang dianggap kronis dan degeneratif?
buktikan bahwa resep-resep dari Al-Quran dan As-Sunnah benar-benar mujarab.
semakin banyak orang yang mempelajari dan mempraktikan Thibbun Nabawi
Maha Benar Allah, yang telah berfirman:
سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
“Akan Kami perlihatkan tanda-tanda kekuasaan kami di segenap cakrawala dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar.” (Fushshilat:63)
fakta Thibbun Nabawi
Ia keluar dari pelita kenabian, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi yang berbicaranya bukan berdasarkan hawa nafsu. Karena itu, hanya manusia yang cacat imannya dan rusak fitrahnya yang menolaknya.
penyakit itu ada dua macam,
- penyakit hati dan
- penyakit jasmani. Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an.
Klasifikasi jenis penyakit ini mengandung
- hikmah ilahi dan
- kemukjizatan yang hanya bisa dicapai oleh kalangan medis di pertengahan abad ke-18.
Sesungguhnya iman kepada Allah dan para Rasul, yaitu aqidah yang tertanam dalam hati, merupakan solusi pengobatan yang terpenting bagi hati, yakni bagi penyakit jiwa.
Sedangkan untuk penyakit jasmani, kita bisa menengok metode pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keberadaan berbagai penyakit termasuk sunnah kauniyyah yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penyakit-penyakit itu merupakan
- musibah dan
- ujian yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas hamba-hamba- Nya. Dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat kemanfaatan bagi kaum mukminin. Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya. (HR. Muslim no. 2999)
Termasuk keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada kaum mukminin, Dia menjadikan sakit yang menimpa seorang mukmin sebagai
- penghapus dosa dan kesalahan mereka.
Sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu ‘anhu, bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahan nya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)
Di sisi lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan penyakit, Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat itupun menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba- Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya. (HR. Al-Bukhari no. 5678)
Abdullah bin Mas'ud radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya. (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453. Dan hadits ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 451)
Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. (HR. Muslim no. 5705)
Al-Qur`anul Karim dan As-Sunnah yang shahih sarat dengan beragam penyembuhan dan obat yang bermanfaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga mestinya kita tidak terlebih dahulu berpaling dan meninggalkannya untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang ini. (Shahih Ath-Thibbun Nabawi, hal. 5-6, Abu Anas Majid Al-Bankani Al-âIraqi) Karena itulah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu berkata: Sungguh para tabib telah sepakat bahwa ketika memungkinkan pengobatan dengan bahan makanan maka jangan beralih kepada obat-obatan (kimiawi, -pent.). Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka jangan beralih memakai obat yang kompleks.
Mereka mengatakan: Setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan-makanan tertentu dan pencegahan, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan Ibnul Qayyim juga berkata: Berpalingnya manusia dari cara pengobatan nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Qur`an, yang merupakan obat bermanfaat.(Ath-Thibbun Nabawi, hal. 6, 29)
Dengan demikian, tidak sepantasnya seorang muslim menjadikan pengobatan nabawiyyah sekedar sebagai pengobatan alternatif. Justru sepantasnya dia menjadikannya sebagai cara pengobatan yang utama, karena kepastiannya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pengobatan dengan obat-obatan kimiawi kepastiannya tidak seperti kepastian yang didapatkan dengan thibbun nabawi. Pengobatan yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini kesembuhannya karena bersumber dari wahyu. Sementara pengobatan dari selain Nabi kebanyakannya dugaan atau dengan pengalaman/ uji coba. (Fathul Bari, 10/210) Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari (2006)
Namun tentunya, berkaitan dengan kesembuhan suatu penyakit, seorang hamba tidak boleh bersandar semata dengan pengobatan tertentu. Dan tidak boleh meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan sakitnya. Namun seharusnya ia bersandar dan bergantung kepada Dzat yang memberikan penyakit dan menurunkan obatnya sekaligus, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba hendaknya selalu bersandar kepada-Nya dalam segala keadaannya. Hendaknya ia selalu berdoa memohon kepada-Nya agar menghilangkan segala kemudharatan yang tengah menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Siapakah yang mengijabahi (menjawab/ mengabulkan) permintaan orang yang dalam kesempitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah) Dia yang menghilangkan kejelekan?(An-Naml: 62)
Sungguh tidak ada yang dapat memberikan kesembuhan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Karena itulah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata memuji Rabbnya:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.(Asy Syuâara`: 80)
Pengobatan Nabawi
1. Habbatus Sauda’ atau Jinten Hitam atau Syuwainiz
Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sungguh dalam habbatus sauda’ itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian”. (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727)
Habbatus sauda’ berkhasiat mengobati segala
- jenis penyakit dingin,
- bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor temporal.
Biji habbatus sauda’ mengandung
- 40% minyak takasiri dan
- 1,4% minyak atsiri,
- 15 jenis asam amino,
- protein,
- Ca,
- Fe,
- Na dan
- K.
kandungan aktifnya
- thymoquinone (TQ),
- dithymouinone (DTQ),
- thymohydroquimone (THQ) dan
- thymol (THY).
Telah terbukti dari berbagai hasil penelitian ilmiah bahwa habbatus sauda’ mengaktifkan kekebalan spesifik/kekebalan, didapat karena ia meningkatkan kadar
- sel-sel T pembantu,
- sel-sel T penekan, dan
- sel-sel pembunuh alami.
Beberapa resep penggunaan dan manfaat habbatus sauda’:
- Ditumbuk, dibuat adonan dangan campuran madu, kemudian diminum setelah dicampur air panas, diminum rutin berhari-hari: menghancurkan batu ginjal dan batu kandung kencing, memperlancar air seni, haid dan ASI.
- Diadon dengan air tepung basah atau tepung yang sudah dimasak, mampu mengeluarkan cacing dengan lebih kuat.
- Minum minyaknya kira-kira sesendok dicampur air untuk menghilangkan sesak napas dan sejenisnya.
- Dimasak dengan cuka dan dipakai berkumur-kumur untuk mengobati sakit gigi karena kedinginan.
- Digunakan sebagai pembalut dicampur cuka untuk mengatasi jerawat dan kudis bernanah.
- Ditumbuk halus, setiap hari dibalurkan ke luka gigitan anjing gila sebagian dua atau tiga kali oles, lalu dibersihkan dengan air.
Untuk konsumsi rutin menjaga kesehatan, sebaiknya dua sendok saja. Sebagian kalangan medis menyatakan bahwa terlalu banyak mengkonsumsinya bisa mematikan?
2. Madu atau ‘Asl
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang madu yang keluar dari perut lebah:
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia (An-Nahl: 69)
Madu dapat digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya untuk mengobati
- sakit perut, seperti ditunjukkan dalam hadits berikut ini:
Ada seseorang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya. Nabi berkata: Minumkan ia madu.
Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata: Minumkan ia madu.
Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata: Minumkan ia madu.
Setelah itu, orang itu datang lagi dan menyatakan: Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret). Nabi bersabda: Allah Maha benar dan perut saudaramu itu dusta. Minumkan lagi madu.
Orang itu meminumkannya lagi, maka saudaranya pun sembuh. (HR. Al-Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731)
Beberapa hasil penelitian tentang madu:
a. Bakteri tidak mampu melawan madu
b. Madu kaya kandungan antioksidan. Antioksidan fenolat dalam madu memiliki
- daya aktif tinggi serta
- bisa meningkatkan perlawanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress)
c. Madu dan kesehatan mulut. Bila digunakan untuk bersikat gigi bisa
- memutihkan dan
- menyehatkan gigi dan gusi,
- mengobati sariawan dan gangguan mulut lain.
d. Madu dan kulit kepala
Dengan menggunakan cairan madu berkadar 90% (madu dicampur air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah diurut pelan-pelan selama 2-3 menit, madu dapat
- membunuh kutu,
- menghilangkan ketombe,
- memanjangkan rambut,
- memperindah dan
- melembutkannya serta
- menyembuhkan penyakit kulit kepala.
e. Madu dan pengobatan kencing manis
Madu mampu
- menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes karena adanya unsure antioksidan yang menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah sehingga kadar gula tersebut tidak terlihat tinggi.
- Madu nutrisi kaya vitamin B1, B5, dan C dimana para penderita diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini.
- Sesendok kecil madu alami murni akan menambah cepat dan besar kandungan gula dalam darah, sehingga akan menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Sebaiknya penderita diabetes melakukan analisis darah dahulu untuk menentukan takaran yang diperbolehkan untuknya di bawah pengawasan dokter.
f. Madu mencegah terjadinya radang usus besar (colitis), maag dan tukak lambung
- Madu berperan baik melindungi kolon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam asetat dan
- membantu pengobatan infeksi lambung (maag).
- Pada kadar 20% madu mampu melemahkan bakteri pylori penyebab tukak lambung di piring percobaan.
g. Selain itu madu amat bergizi,
melembutkan sistem alami tubuh,
menghilangkan rasa obat yang tidak enak,
membersihkan liver,
memperlancar buang air kecil,
cocok untuk mengobati batuk berdahak.
Buah-buahan yang direndam dalam madu bisa bertahan sampai enam bulan.
Dianjurkan memakai madu untuk mengobati luka bakar. Madu memiliki spesifikasi anti proses peradangan (inflammatory activity anti)Madu terbaik adalah
- yang paling jernih, putih dan
- tidak tajam serta
- yang paling manis.
Madu yang diambil dari daerah gunung dan pepohonan liar memiliki keutamaan tersendiri daripada yang diambil dari sarang biasa, dan itu tergantung pada tempat para lebah berburu makanannya.
3. Minyak Zaitun
“Konsumsilah minyak zaitun dan gunakan sebagai minyak rambut, karena minyak zaitun dibuat dari pohon yang penuh berkah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Fungsi minyak zaitun:
- Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.
- Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah.
- Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.
- Mengurangi serangan kanker.
- Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.
- Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.
- Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.
- Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma)
- Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko tukak lambung.
- Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang terdapat dalam ASI.
- Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja.
Anas radhiallahu ‘anhu menceritakan:
Ada sekelompok orang Urainah dari penduduk Hijaz menderita sakit (karena kelaparan atau keletihan). Mereka berkata: Wahai Rasulullah, berilah tempat kepada kami dan berilah kami makan. Ketika telah sehat, mereka berkata: Sesungguhnya udara kota Madinah tidak cocok bagi kami (hingga kami menderita sakit,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menempatkan mereka di Harrah, di dekat tempat pemeliharaan unta-unta beliau (yang berjumlah 3-30 ekor). Beliau berkata: Minumlah dari susu dan kencing unta-unta itu. Tatkala mereka telah sehat, mereka justru membunuh penggembala unta-unta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (setelah sebelumnya mereka mencungkil matanya) dan menggiring unta-unta tersebut (dalam keadaan mereka juga murtad dari Islam, -pent.).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengirim utusan untuk mengejar mereka, hingga mereka tertangkap dan diberi hukuman dengan dipotong tangan dan kaki-kaki mereka serta dicungkil mata mereka. (HR. Al-Bukhari no. 5685, 5686 dan Muslim no. 4329)
4. Pengobatan dengan berbekam (hijamah)
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam pada bagian kepalanya dalam keadaan beliau sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya.(HR. Al-Bukhari no. 5701)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
Obat/kesembuhan itu (antara lain) dalam tiga (cara pengobatan): minum madu, berbekam dan dengan kay, namun aku melarang umatku dari kay. (HR. Al-Bukhari no. 5680)
5. Ruqyah
Salah Satu Pengobatan Nabawi di antara cara pengobatan nabawi yang bermanfaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ruqyah yang syarâi, yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Ketahuilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Al-Qur`anul Karim sebagai syifa` (obat/ penyembuh) sebagaimana firman-Nya: Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur`an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al-Qur`an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab?
Katakanlah: Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang yang beriman (Fushshilat: 44)
Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an apa yang merupakan syifa` dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Al-Isra`: 82)
Huruf …dalam ayat di atas untuk menerangkan jenis, bukan menunjukkan tabâidh (makna sebagian). Karena Al-Qur`an seluruhnya adalah syifa` dan rahmat bagi orang-orang beriman, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya (yaitu surat Al-Fushshilat: 44). (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 7)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pengaruh dan khasiatnya bagi tubuh pun lebih besar daripada pengaruh obat-obatan jasmani. Namun kemanjurannya hanyalah didapatkan dengan dua perkara:
Pertama: Dari sisi orang yang menderita sakit, yaitu lurus niat/tujuannya.
Kedua: Dari sisi orang yang mengobati, yaitu kekuatan bimbingan/arahan dan kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu âlam.(Fathul Bari 10/115)
Dalam hadits Abu Sâ˜id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu tentang ruqyah dengan surat Al-Fatihah yang dilakukan salah seorang shahabat, benar-benar terlihat pengaruh obat tersebut pada penyakit yang diderita sang pemimpin kampung. Sehingga obat itu mampu menghilangkan penyakit, seakan-akan penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Cara seperti ini merupakan pengobatan yang paling mudah dan ringan. Seandainya seorang hamba melakukan pengobatan ruqyah dengan membaca Al-Fatihah secara bagus, niscaya ia akan melihat pengaruh yang mengagumkan dalam kesembuhan. Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: Aku pernah tinggal di Makkah selama beberapa waktu dalam keadaan tertimpa berbagai penyakit. Dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan Al-Fatihah yang dibaca berulang-ulang pada segelas air Zam-zam kemudian meminumnya, hingga aku melihat dalam pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Lalu aku menceritakan hal itu kepada orang yang mengeluh sakit. Mereka pun melakukan pengobatan dengan Al-Fatihah, ternyata kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.
Subhanallah! Demikian penjelasan dan persaksian Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu terhadap ruqyah serta pengalaman pribadinya berobat dengan membaca Al-Fatihah. (Ad-Da`u wad Dawa` hal. 8, Ath-Thibbun Nabawi hal. 139) Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan berkata: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan Al-Qur`an sebagai syifa` bagi penyakit-penyakit hissi (yang dapat dirasakan indera) dan maknawi berupa penyakit-penyakit hati dan badan. Namun dengan syarat, peruqyah dan yang diruqyah harus mengikhlaskan niat. Dan masing-masing meyakini bahwa kesembuhan itu datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ruqyah dengan Kalamullah merupakan salah satu di antara sebab-sebab yang bermanfaat.
Beliau juga berkata: Pengobatan dengan ruqyah Al-Qur`an merupakan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amalan salaf. Mereka dahulu mengobati orang yang terkena âin, kesurupan jin, sihir dan seluruh penyakit dengan ruqyah. Mereka meyakini bahwa ruqyah termasuk sarana yang mubah12 lagi bermanfaat, sementara yang menyembuhkan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.(Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, juz 1, jawaban soal no. 77)Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya:
“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya
- ada orang yang mengetahuinya dan
- ada yang tidak mengetahuinya.
Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya.
Prinsip Prinsip Pengobatan Islam
Islam adalah agama yang
- kamil(sempurna) dan
- syamil menyeluruh. Islam mengatur segala sendi kehidupan manusia termasuk dalam dunia pengobatan dan perawatan. Ada beberapa prinsip penting yang harus dipenuhi dalam pengobatan Islam antara lain sebagai berikut:
1. Pelaksanaannya sesuai dengan syariat Islam
Islam mengajarkan penggunaan bahan-bahan halal sebagai obat sebaliknya melarang penggunaan obat-obatan yang berasal dari bahan yang haram.
Selain itu pengobatan yang dilakukan harus terhindar dari unsur-unsur khufarat, takhayul dan bid’ah.
2. Meletakkan keyakinan bahwa Allah sebagai penyembuh penyakit.
3. Mengambil sebab melalui ikhtiar serta bertawakal
4. Mengkaji untuk mendapat yang lebih terbaik
5. Kualitas (kemampuan) perawat
Rasulullah Saw merupakan tauladan seorang perawat yang terbaik bagi kita. Beliau mengobati penyakit dengan 3 pendekatan:
1. Dengan menggunakan obat herbal(unsur fisikal)
2. Dengan menggunakan obat ketuhanan
3. Dengan menggunakan keduanya
Sesungguhnya Allah SWT telah membekali setiap tubuh manusia dengan satu kekuatan alami yang bias digunakan untuk menolak serta menyembuhkan secara pribadi setiap penyakit yang menyerang dirinya. Kekuatan tersebut dalam dunia kedokteran dikenal dengan system imuniti (salah satu dari 7 sistem pelindung yang berpadu menadi satu dari Allah, yaitu:
- system detoksifikasi tubuh
- system inflamatorik (membuang sel yang rusak)
- system metabolik (proses pencernaan dalam tubuh)
- system regulasi ( hormon)- system regenerasi (memperbaiki sel/ jaringan yang rusak)
- system kekuatan dari kesehatan jiwa (pikiran, emosi, konsep diri & arti arah hidup,keluarga & sahabat)) josep pizzorno, nd
Kekuatan tersebut bergantung pada 4 faktor utama yaitu
- spiritual(kalbu),
- mental(akal),
- emosi(nafsu), dan
- fisikal(jasmani). Keempat factor tersebut saling bergantung satu sama lain. Berikut ini % kekuatan fitrah didalam tubuh manusia:
· Spiritual : 50%
· Mental : 20%
· Emosi : 20%
· Fisikal : 10%
Tidak sempurna suatu perawatan hanya menjadikan fisikal sebagai tumpuan perawatan sedangkan perawatan rohani tidak diberi tumpuan.
Perhatian sungguh-sungguh juga perlu ditekankan untuk memulihkan juwa pasien (spiritual, mental, dan emosi). Lebih dari 80% pasien mengalami penyakit yang bersumber dari kejiwaan. Penyakit yang asalnya dari masalah hati seperti
lekas marah,
dendam,
bimbang,
takut,
ragu,
cemburu,
ego, dan
mementingkan diri sendiri serta
sifat tercela yang lain.
Pasien harus dibimbing untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya . Ma’rifat kepada Allah akan menghasilkan obat yang mujarab dan terbukalah seluas-luasnya pintu pengharapan pada diri pasien. Usaha mengobati fisik menjadi lebih mudah dan kesembuhan akan berlangsung luar biasa cepatnya. Tanda-tanda yang bisa dilihat pada diri pasien seperti adanya r
asa sabar,
syukur,
tidak putus asa dan
semangat yang tinggi untuk sembuh.
Pelaksanaan pengobatan akan dapat berhasil secara maksimal jika antara perawat dan pasien masing masing memiliki kekuatan ilahiah. Kekuatan ilahiah ini dapat diwujudkan dengan menggabungkan 2 jiwa yang bertaqwa. Karena itu perawatan ilahiah memiliki 3 azas sebagai berikut:
1. Banyak memohon kepada Allah SWT
2. Ingat Allah setiap waktu
3. Do’a khusus
http://thibbun.com/artikel/62-at-thibbun-nabawi
http://kesehatan.kompasiana.com/2010/04/29/thibbun-nabawi-pengobatan-berkesinambungan-menyeluruh/
Sumber : www.thibbun-nabawi.com/kesehatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar